Friday, March 30, 2012

halal itu jelas dan yang haram itu jelas

Rasanya gimana gitu kalo ada muslimah apalagi berjilbab kerja di bank konvensional, ngenes, sedih deh huhuhu

An-Nu'man bin Basyir berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'" (HR. Bukhori)

Kedudukan Hadits

Hadist ini shahih menurut syarat Bukhori dari sahabat Rasulullah An-Nu'man bin Basyir

Selanjutnya dr artikel yang diambil disini

Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan,”Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya.” Dan beliau saw bersabda,”Mereka itu sama.” (HR. Muslim)


Ibnu Masud meriwayatkan,”Rasulullah saw melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi), sementara itu didalam riwayat lain disebutkan : 
“Orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dan dua orang saksinya—jika mereka mengetahui hal itu—maka mereka dilaknat melalui lisan Nabi Muhammad saw hingga hari kiamat.” (HR. An Nasa’i) 

Hadits-hadits shahih itulah yang menyiksa hati orang-orang islam yang bekerja di bank-bank atau kongsi yang aktivitasnya tidak lepas dari tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya pada berbagai kongsi, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw,”Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorang pun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia terkena debunya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat dirubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat dirubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat islam. Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khmar dan yang lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.
Setiap muslim yang mempunyai kepedulian dengan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya dan segenap kemampuannya dengan berbagai sarana yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berfaham sosialis.
Di sisi lain apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang non muslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.
Terlepas dari semua itu, perlu juga diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan perbankan tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan penitipan, dan sebagainya; bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram. Oleh karena itu, tidak mengapa bagi seorang muslim menerima (melakukan) pekerjaan tersebut—meskipun hatinya tidak rela—dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diredhoi agama dan hatinya. Hanya saja dalam hal ini, hendaklah ia melaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan Tuhan-nya beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya, sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)
Jangan pula dilupakan adanya kebutuhan hidup yang oleh para fuqaha diistilahkan telah sampai tingkat darurat. Kondisi inilah yang menjadikan saudara penanya untuk menerima –tetap bekerja di bank—sebagai sarana mencari kehidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah swt :



فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ


Artinya : “.....tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh : 173)
(Fatwa-fatwa Kontemporer, juz I hal 766 – 770)

Wallahu A’lam

2 comments:

  1. saya cukup sepakat dengan pandangan mima, namun kalau boleh saya mau menambahkan dua hal. Pertama, dunia perbankan kita ternyata sangat kemaruk dalam merekrut tenaga/karyawan baru, ini dibuktikan dengan banyaknya tenaga kerja perbankan yang justru tidak berlatar belakang dari disiplin keilmuannya. Banyak insinyur dan ilmuwan muda potensial yang tergiur masuk rekrutmen dunia perbankan karena iming2 gaji yang besar, akibatnya pada masa depan stok kaum intelektual negara ini akan mengalami krisis. bisa ditebak, kemajuan teknologi dan peradaban di masa depan negara ini akan jadi taruhan.

    Kedua, sistem perbankan syariah saat ini, menurutku masih sebatas permainan. Setidaknya seorang kawan lama saya yang bekerja di salah satu bank syariah terkemuka telah mengakuinya. Sistem yang dipakaipun tidak sepenuhnya berdasar kaidah fiqih. pendekatan yang dipakai perbankan syari'ah lebih banyak pada upaya melebarkan pasar dengan dalih praktik fiqih.

    Atas dasar itu nampaknya dunia perbankan Indonesia perlu meniru pengelolaan perbankan ala Muhammad Yunus, pendiri grameen bank bangladesh.

    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  2. Saya cukup sepakat dengan tulisan mima, kalau diperkenankan saya hendak menambahkan dua hal kelemahan dunia perbankan, baik syariah maupun konvensional.

    Pertama, dunia perbankan cenderung kemaruk dalam merekrut karyawan baru. banyak dari karyawan mereka yang latar belakangnya justru dari teknik maupun eksak, yang tentunya tak cocok untuk dekerja di Bank. Hal ini tentu akan mengancam masa depan dunia keilmuan dan teknologi di Indonesia, karena para insinyur dan ilmuwan muda telah pada ditarik oleh rekrutmen dunia perbankan.

    kedua, bank syariah proses penerapannya masih sebatas permukaan. mereka masih menjadikan bisnis sebagai target utama, hal inipun diakui seorang kawan lama saya yang juga karyawan salah satu bank syariah terkemuka..kaidah fiqih ekonomi hanya dijadikan sebatas pembungkus untuk melebarkan nasabah islam.
    Atas dasar itu nampaknya dunia perbankan kita perlu mencontoh grameen bank ala muhammad yunus..: )

    Wallahu a'lam

    ReplyDelete

Please leave your comment here..